Fashion FashionCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
general

Fashion Hijab di Media Sosial: Antara Identitas dan Tren

Mengamati pergeseran fashion hijab di Indonesia: dari fungsi ke estetika, didorong media sosial dan komunitas daring.

15 May 2026 · 2 menit baca · oleh Sandi Sinaga
Fashion Hijab di Media Sosial: Antara Identitas dan Tren

Pertama kali saya memperhatikan perubahan fashion hijab bukan dari majalah mode, melainkan dari linimasa Twitter dan TikTok teman-teman di Pemkocilegon. Dulu hijab identik dengan kerudung segi empat polos yang dilipat rapi, sekarang variasi pashmina, bergo, dan hijab instan bermunculan dengan tekstur dan warna yang lebih berani. Yang menarik, pergeseran ini tidak hanya soal tampilan, tapi juga menimbulkan diskusi di komunitas online: apakah hijab tetap terjaga nilai spiritualnya saat ia menjadi bagian dari tren fashion? Sebagai penulis yang ngikutin kebiasaan baru di Indonesia sejak 2021, saya rasa fenomena ini layak dibedah dari sudut pandang yang lebih rasa ingin tahu.

Dari Syar'i ke Ekspresi Diri

Instagram dan YouTube jadi panggung baru bagi hijab. Sejak itu, cara perempuan muslim Indonesia memakainya ikut berubah. Di media sosial, muncullah akun-akun dedikasi yang fokus ngulas padu padan hijab, mulai dari tutorial draping pashmina hingga rekomendasi hijab berbahan jersey yang tidak gerah. Saya sempat ngikutin beberapa grup Facebook hijab style, isinya bukan lagi sekadar tanya jawab soal cara nutup aurat, melainkan ajang berbagi foto outfit of the day (OOTD) dengan tema warna tertentu. Di satu sisi, ini membuka ruang kreativitas.

Namun di sisi lain, muncul standar baru yang kadang membingungkan: apakah hijab harus selalu kekinian? Apakah pake hijab segi empat polos dianggap "ketinggalan"? Komunitas online, menurut pengamatan saya, berperan ganda—sebagai pemicu tren sekaligus penjaga norma. Sebuah diskusi di WhatsApp grup lokal pernah ramai membahas boleh tidaknya hijab dipadukan dengan crop top (dengan atasan panjang), dan nggak ada kesimpulan mutlak. Perdebatan semacam ini justru memperkaya cara kita memahami hijab sebagai busana yang dinamis, bukan sekadar kewajiban statis Saya bahas lebih dalam di fashion.

Di balik popularitas berbagai gaya, ada faktor lain yang ikut main: merek lokal. Saya perhatiin banyak bisnis rumahan di Pemkocilegon mulai jual hijab instan dengan motif tie dye atau printing. Harganya terjangkau, pemasarannya ngandelin endorsement dari teman sendiri. Hal ini nggak lepas dari budaya saling percaya di komunitas daring—seorang blogger atau content creator cukup merekomendasikan hijab tertentu, pesanan langsung mengalir. Saya sendiri penasaran, apakah tren ini bakal bertahan lama, atau cuma siklus musiman kayak fashion pada umumnya.

Sebntar, saya juga mikir: fashion hijab kini bukan lagi soal satu aturan baku, melainkan medan dialog antara identitas pribadi, tuntunan agama, dan arus media sosial. Penutup tulisan ini hanya sekadar catatan: nggak perlu membanding-bandingin gaya satu dengan yang lain. Setiap orang punya alasan sendiri dalam milih hijabnya—dan itu yang membuat pembicaraan ini terus menarik bangeet.

Ilustrasi perempuan berhijab dengan gaya pashmina dan aksesori

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #fashion hijab #tren media sosial #gaya berhijab #komunitas online